Populer

Kemenekraf Dorong Warga Aceh Jaya Kembangkan Branding Produk Lokal Lewat Desa Kreatif

 

ACEH JAYA – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif mendorong masyarakat Kabupaten Aceh Jaya mengembangkan potensi produk lokal melalui penguatan branding, penyusunan cerita produk (brand storytelling), dan pemanfaatan kekayaan intelektual.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Akselerasi Kreatif (Aktif) – Native Advertising yang digelar Direktorat Periklanan, Deputi Bidang Kreativitas Media, melalui program unggulan Desa Kreatif.

Direktur Periklanan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Andy Ruswar, mengatakan program Native Advertising dikembangkan untuk mendukung pengembangan potensi desa kreatif yang telah mulai dijalankan di tengah masyarakat.

Menurutnya, promosi yang menarik tidak cukup hanya menampilkan produk atau potensi desa, tetapi juga harus mampu menyampaikan cerita yang memiliki nilai tambah bagi audiens.

“Yang diperlukan agar konten promosi menarik dan menjangkau audiens adalah kemampuan peserta menyampaikan storytelling kepada masyarakat luas. Dengan begitu, ada nilai tambah yang bisa ditawarkan, baik dari potensi jasa, produk, maupun wisata di desa,” ujarnya.

Andy menjelaskan, keberhasilan program tersebut akan dievaluasi melalui praktik pembuatan konten promosi oleh peserta. Sejumlah peserta akan diminta mempraktikkan materi yang diberikan melalui media sosial, kemudian hasilnya dinilai oleh penyelenggara.

“Nama peserta yang mengikuti praktik akan kami catat. Mereka akan diberikan contoh dan kesempatan mempraktikkan langsung melalui media sosial, kemudian hasilnya akan kami nilai,” katanya.

Ia berharap program tersebut dapat terus berkembang dan membantu masyarakat desa mengoptimalkan potensi lokal melalui promosi digital yang lebih kreatif dan tepat sasaran.

Kementerian Ekonomi Kreatif memiliki tiga program unggulan, yakni Desa Kreatif, Creative Hub, dan Creative by Indonesia. Program Desa Kreatif menjadi salah satu upaya memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi daerah.

Desa kreatif tidak hanya berorientasi pada keindahan wilayah atau destinasi wisata, tetapi juga pada pengembangan talenta, kreativitas, dan kemampuan masyarakat dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.

Dosen sekaligus praktisi periklanan, Muhammad Ichsan Maulana, mengatakan strategi native advertising berpotensi membantu desa memperkenalkan keunggulan dan karakteristik produk lokal kepada masyarakat luas.

Menurutnya, pengembangan produk tidak cukup hanya mengandalkan kualitas barang, tetapi juga perlu didukung cerita yang menarik dan autentik agar mampu membangun hubungan dengan konsumen.

“Misalnya kopi, kita bukan cuma menjual kopi lokal, tetapi juga bagaimana storytelling dari kopi tersebut, mulai dari cara produksinya, pengemasan, dan lainnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengenali keunikan yang dimiliki desa, kemudian mengemasnya menjadi konten yang mampu menarik perhatian audiens.

Ichsan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan agar semakin banyak masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat untuk mengembangkan usaha kreatif di daerah.

Sementara itu, praktisi periklanan sekaligus Ketua Program Studi D-III Keuangan dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Fakhrurrazi Amir, menilai kegiatan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi desa yang selama ini belum dikelola secara optimal.

Ia mengaku telah berdiskusi dengan kepala desa dan menemukan sejumlah potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Konten promosi yang autentik perlu menonjolkan keunggulan khas suatu daerah agar dapat menjangkau audiens yang tepat,” ujarnya.

Keberhasilan pengembangan potensi wisata juga dapat dilihat dari peningkatan jumlah kunjungan.

Fakhrurrazi turut mengajak masyarakat untuk berkunjung ke Desa Alue Jang dan melihat langsung potensi wisata alam yang dimiliki desa tersebut, termasuk air terjunnya.

Ia berharap promosi yang tepat dapat membantu memperkenalkan potensi wisata lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Salah seorang peserta, Fahrudin, mengatakan kegiatan pengembangan kapasitas yang difasilitasi Kementerian Ekonomi Kreatif memberinya kesempatan untuk memperdalam pengetahuan sebagai pelaku usaha.

“Melalui kegiatan tersebut, saya mempelajari strategi pemasaran, segmentasi pasar, pengembangan produk, serta penggalian ide-ide kreatif yang dapat diterapkan dalam usahanya,” paparnya.

Menurutnya, materi dan demonstrasi yang diberikan menjadi bekal untuk meningkatkan keterampilan pemasaran serta memahami cara memperkenalkan produk kepada konsumen yang sesuai.

Melalui program Desa Kreatif, Kementerian Ekonomi Kreatif juga berharap masyarakat dapat mengoptimalkan potensi daerah dengan strategi promosi yang lebih terarah, sehingga produk dan keunggulan lokal mampu memiliki daya saing serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian desa.

- Advertisement -

Berita Terkait