Populer

Berbekal Pengalaman Tsunami, Banda Aceh Perkuat Kolaborasi Menuju Kota Tangguh Bencana

BANDA ACEH: Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana harus menjadi budaya masyarakat, bukan sekadar respons ketika bencana terjadi. Penguatan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, masyarakat, dan media menjadi salah satu langkah penting untuk mewujudkan Banda Aceh sebagai kota yang tangguh bencana.

Illiza mengatakan, pengalaman menghadapi tsunami menjadi pelajaran penting bagi Banda Aceh untuk terus memperkuat kesiapsiagaan dan membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih baik. Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix agar program pengurangan risiko bencana dapat berjalan secara berkelanjutan.

Menurutnya, perguruan tinggi dan lembaga penelitian berperan penting dalam menyediakan data serta kajian ilmiah sebagai dasar pengambilan kebijakan. Sementara itu, masyarakat dan relawan memiliki pengetahuan lokal serta pengalaman langsung yang dapat mendukung kesiapsiagaan, sedangkan media berperan menyebarluaskan informasi dan edukasi kebencanaan kepada publik.

Illiza menekankan, hasil penelitian dan kajian akademik harus dapat diterapkan dalam kebijakan nyata, mulai dari penyusunan program, penentuan prioritas anggaran, hingga peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Kolaborasi bukan sekadar mempertemukan banyak pihak dalam satu kegiatan. Yang perlu dipastikan adalah setiap pihak dapat berkontribusi sesuai perannya, dan hasil kerja sama tersebut bisa diterapkan untuk membantu masyarakat,” ujarnya.

Untuk periode 2027–2030, Pemerintah Kota Banda Aceh menyiapkan sejumlah fokus penguatan ketangguhan bencana, meliputi pengembangan infrastruktur evakuasi, penguatan kelembagaan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dalam perencanaan, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.

Banda Aceh juga diarahkan menjadi living laboratory kebencanaan, yakni ruang pembelajaran dan kolaborasi bagi pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, serta mitra internasional untuk mengembangkan pendekatan yang lebih efektif dalam menghadapi bencana dan cuaca ekstrem. Illiza berharap forum U-DARE 4.0 dapat memperkuat pertukaran pengetahuan dan kerja sama lintas sektor.

“Kita dapat saling belajar dan bekerja bersama untuk melindungi masyarakat dan generasi mendatang,” tutupnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Pusat TDMRC USK Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil.; Wakil Rektor III USK Prof. Dr. Rina Suryani Oktari yang mewakili Rektor USK; perwakilan Geo USK Ria Ervilita; Pembina UKM FASTANA Ibnu Rusydy, S.Si., M.Sc., yang juga menjabat Ketua Program Studi Teknik Geologi; serta Kepala Seksi Pengembangan Kompetensi Calon Lulusan Tri Prastiwi Prasetyo Ningsih, S.E., M.Si. Adapun pemateri dalam kegiatan tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Ela Meilianda.[]

- Advertisement -

Berita Terkait