Populer

GEN-A Dorong Santri Jadi Penggerak Budaya Hidup Sehat di Madrasah

Pidie – Membangun sekolah sehat tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas seperti ruang UKS atau tempat cuci tangan. Perubahan perilaku dan kepemimpinan pelajar dinilai menjadi faktor penting untuk menciptakan budaya hidup sehat di lingkungan sekolah.

Hal itu menjadi fokus dalam kegiatan Upgrading FORSA dan Focus Group Discussion (FGD) Kader TaKasi-SeRa (Taman Edukasi Kesehatan Remaja) yang digelar Madrasah Ulumul Qur’an (MUQ) Pidie bersama Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A), Rabu (15/7/2026).

Kegiatan tersebut melibatkan 48 pengurus Forum Organisasi Santri (FORSA) MUQ Pidie dan 15 kader TaKasi-SeRa untuk membahas berbagai persoalan kesehatan remaja yang terjadi di lingkungan sekolah, sekaligus menyusun solusi yang dapat dijalankan oleh para santri.

Edukator GEN-A, Najwa Miftahul Jannah mengatakan tantangan kesehatan remaja saat ini tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga pola makan, rendahnya aktivitas fisik, kesehatan mental hingga perundungan.

Ia menyebut sekolah sehat harus dipahami sebagai upaya membangun lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh.

“Budaya hidup sehat harus dibangun melalui kebiasaan sehari-hari, mulai dari mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mencegah perundungan hingga berani mencari bantuan ketika mengalami masalah psikologis,” katanya.

Menurut Najwa, FORSA memiliki peran strategis sebagai motor penggerak perubahan perilaku di lingkungan madrasah. Para pengurus organisasi siswa diharapkan menjadi teladan dalam menerapkan pola hidup sehat sekaligus mengampanyekan lima fokus Gerakan Sekolah Sehat kepada teman sebaya.

Berbeda dari pelatihan pada umumnya, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti Small Working Group (SWG) yang mengajak mereka mengidentifikasi persoalan nyata di lingkungan pesantren, menganalisis penyebabnya, kemudian menyusun solusi yang dapat diterapkan bersama.

Dari diskusi tersebut lahir sejumlah gagasan, seperti pemanfaatan botol plastik bekas menjadi produk kerajinan sebagai bagian dari pengelolaan sampah, penyelenggaraan konseling minat dan bakat serta edukasi perencanaan karier bagi santri kelas akhir untuk mendukung kesehatan jiwa.

Selain itu, peserta juga mengusulkan penguatan edukasi gizi, pembiasaan aktivitas fisik, dan kampanye perilaku hidup bersih dan sehat. Usai sesi pelatihan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) kader TaKasi-SeRa.

Forum tersebut menjadi ruang bagi para kader untuk mengevaluasi pelaksanaan edukasi sebaya, berbagi pengalaman mendampingi teman, mengidentifikasi berbagai kendala di lapangan, serta menyusun rekomendasi agar program kesehatan remaja di lingkungan madrasah berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Ketua Dayah Madrasah Ulumul Qur’an Pidie, Tgk Junaidi Ahmad mengatakan pembentukan sekolah sehat merupakan bagian dari upaya membangun generasi yang berkarakter.

“Kita ingin sekolah ini menjadi sekolah yang baik dan sehat. Lebih dari itu, kita berharap para santri tumbuh menjadi pribadi yang baik, berakhlak mulia, serta jauh dari berbagai perilaku buruk dan menyimpang,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif GEN-A sekaligus Duta Pemuda Indonesia 2025 Provinsi Aceh, Imam Maulana menilai sekolah sehat hanya dapat terwujud apabila seluruh warga sekolah terlibat membangun kebiasaan positif secara konsisten.

“Ketika santri mampu mengenali persoalan di sekitarnya, mengajak teman-temannya bergerak bersama, lalu menjadi bagian dari solusi, saat itulah sekolah sehat benar-benar hidup. Kepemimpinan pelajar bukan sekadar mengelola organisasi, tetapi menghadirkan perubahan yang dirasakan oleh seluruh warga sekolah,” katanya.

Melalui pendekatan tersebut, FORSA diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana program kesehatan, tetapi mampu menjadi penggerak budaya hidup sehat yang tumbuh dari, oleh, dan untuk para santri.

 

- Advertisement -

Berita Terkait