Pidie Jaya: Bagi penyintas bencana, tempat tinggal sementara bukan hanya soal atap untuk berteduh. Di dalamnya, ada kebutuhan dasar yang menentukan kenyamanan dan martabat hidup, salah satunya sanitasi yang aman dan layak, terutama bagi lansia dengan keterbatasan fisik. Harapan itu disuarakan Nila Kandi (60), penyintas banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya yang kini berusaha menata hidup dari hunian sementara (huntara).
Air mata Nila jatuh perlahan ketika mengenang malam saat banjir bandang menerjang kampungnya di Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu. Namun di balik kesedihan itu, ia memilih tegar dan menerima musibah sebagai ujian.
“Mungkin ini ujian dari Allah. Sedih memang, tapi kami terima,” ujarnya lirih sambil mengusap air mata.

Nila merupakan salah satu warga dari kawasan yang terdampak paling parah. Kini ia tinggal bersama keluarga di hunian sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah melalui BNPB di kawasan Kantor Bupati Pidie Jaya. Baginya, huntara menjadi tempat untuk memulai kembali kehidupan setelah kehilangan rumah.
Saat banjir datang, kondisi Nila tidak memungkinkan untuk bergerak cepat. Kakinya masih dalam masa pemulihan akibat patah tulang karena kecelakaan enam bulan sebelumnya. Dalam keterbatasan itu, ia bersama ibunya dan suami hanya bisa bertahan di dalam rumah, duduk di atas spring bed selama tiga hari empat malam sambil menunggu air surut.
“Waktu banjir itu kami tinggal di pusat yang paling parah. Karena saya tidak punya rumah lantai dua, kami bersama mamak dan suami duduk di spring bed sampai tiga hari empat malam, tanpa makan, tanpa apa-apa,” kenangnya.

Evakuasi baru dapat dilakukan pada hari keempat. Derasnya arus serta banyaknya batang kayu yang terbawa banjir membuat akses menuju lokasi sangat sulit. Keluarga akhirnya mengevakuasi mereka ke Meunasah Mancang.
“Orang bukan tidak mau menolong, memang tidak bisa masuk. Banyak kayu-kayu, speedboat tidak bisa lewat,” katanya.
Pengalaman Nila menunjukkan bahwa saat bencana terjadi, lansia dan warga dengan keterbatasan fisik menghadapi tantangan berlapis. Selain menyelamatkan diri, mereka membutuhkan fasilitas dasar yang mudah diakses agar dapat menjalani masa pemulihan dengan aman dan nyaman.
Di huntara, Nila mengaku bersyukur karena bantuan pemerintah tetap hadir dan petugas rutin memantau kondisi para penyintas.

“Kalau dari BNPB kadang dua hari sekali datang melihat keadaan kami. Kepedulian itu ada,” ujarnya.
Meski demikian, ia berharap fasilitas kamar mandi dapat terus ditingkatkan agar lebih ramah bagi lansia dan penyintas dengan keterbatasan gerak. Sanitasi yang layak dinilai penting karena berkaitan langsung dengan kesehatan, keselamatan, serta kenyamanan penghuni huntara.

“Masalah tempat tidak ada masalah. Yang membuat saya tidak nyaman memang kamar mandi. Karena wc jongkok sult utuk saya. Jadi yang saya butuhkan sekarang adalah wc duduk,” ungkap Nila.

Di tengah keterbatasan, keluarga Nila kini bergantung pada anak-anak mereka. Sang suami belum kembali bekerja, sementara harta benda di rumah lama belum bisa diselamatkan. Meski demikian, ia tetap menyimpan harapan agar kehidupan keluarganya perlahan pulih.
“Kalau dari pemerintah, apa yang dikasih itu yang kita terima. Kalau mau lebih, ya kita tambah sendiri,” jelasnya.

Bagi Nila, rumah yang hilang bukan akhir dari segalanya. Dari hunian sementara, ia menunggu hari ketika hunian tetap berdiri dan keluarganya dapat memulai hidup baru. Kisahnya menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya membangun rumah, tetapi juga memastikan setiap penyintas, terutama lansia, memiliki akses pada fasilitas dasar yang aman dan layak.


