Pidie Jaya: Hujan turun tanpa henti malam itu. Air sungai yang semula hanya menggenangi halaman perlahan berubah menjadi arus deras membawa serta kayu-kayu gelondongan yang menelan dan menghantam rumah-rumah warga di Pidie Jaya. Di tengah kepanikan, Rauzah (42) hanya punya satu pilihan, memeluk keempat anaknya dan bertahan hidup di atas atap rumah yang nyaris hanyut. Dari sanalah perjuangannya dimulai, ukan hanya lolos dari maut, tetapi juga menata kembali hidup dari pengungsian.
Di atas atap rumah yang terus diguyur hujan, Rauzah duduk bersama empat anaknya. Air terus naik, dinding rumah berguncang, dan suara bangunan yang mulai rapuh membuat malam terasa lebih panjang. Tidak ada makanan, tidak ada bantuan yang bisa dijangkau, hanya doa yang terus dipanjatkan.

“Anak-anak saya ikat tangannya pakai kain. Satu saya gendong, yang lain saya pegang kainnya. Saya takut mereka jatuh ke bawah karena atap goyang-goyang,” kenangnya sambil menahan tangis, Selasa, 14 April 2026.
Sepanjang malam, anak-anaknya menangis kelaparan. Namun Rauzah berusaha menenangkan mereka dengan cara sederhana. Ia meminta anak-anaknya berniat puasa agar rasa lapar bisa ditahan sampai pertolongan datang.

“Kalau memang tenggelam, tenggelamlah semua. Kalau hidup, hiduplah semua. Saya hanya minta itu sama Allah,” katanya lirih.
Memulai Hidup Baru di Huntara
Kini, 4 bulan setelah banjir bandang berlalu, Rauzah tinggal di hunian sementara (huntara) Meunasah Raya bersama empat anaknya. Rumah yang dulu menjadi tempat berlindung telah rusak, sementara kehidupan baru di pengungsian menghadirkan tantangan berbeda.

Sebagai ibu tunggal, ia memikul seluruh tanggung jawab keluarga. Tidak ada pekerjaan tetap, tidak ada penghasilan pasti, dan kebutuhan anak-anak terus berjalan setiap hari. Untuk bertahan hidup, Rauzah bekerja serabutan: mencuci pakaian, menyetrika, hingga membersihkan rumah orang lain.
“Kalau ada kerjaan saya kerjakan. Kadang sebulan paling dapat dua ratus ribu rupiah. Kadang sehari dua puluh ribu. Tidak cukup, tapi harus dicukup-cukupkan,” ujarnya.

Dari penghasilan itu, ia harus membiayai kebutuhan empat anaknya yang masih sekolah. Anak sulungnya duduk di bangku MTs, sementara tiga lainnya masih di usia sekolah dasar dan taman kanak-kanak.
Pendidikan Jadi Harapan
Meski hidup serba kekurangan, Rauzah punya satu prinsip yang tidak pernah berubah: anak-anaknya harus tetap sekolah. Baginya, pendidikan adalah jalan agar anak-anaknya kelak memiliki masa depan lebih baik dan tidak mengulang kesulitan yang ia alami hari ini.
“Apapun yang terjadi, anak harus sekolah. Pintar atau tidak, itu bekal hidup mereka sendiri. Jangan sampai nanti mereka dihina orang,” katanya tegas.

Setiap pagi ia mengantar anak-anaknya ke sekolah menggunakan sepeda. Kendaraan itulah yang kini menjadi penopang aktivitas keluarga kecilnya. Sepeda lama miliknya hilang tertimbun lumpur banjir, sehingga ia membeli sepeda bekas seharga Rp200 ribu demi tetap bisa mengantar anak-anak belajar.
“Kalau tidak ada sepeda, saya susah antar anak sekolah. Jadi saya beli sendiri walaupun murah,” katanya.
Huntara yang Perlu Dibenahi
Bagi Rauzah, huntara telah menjadi tempat berteduh yang patut disyukuri. Namun ia juga berharap fasilitas dasar dapat terus diperbaiki agar warga, terutama perempuan dan anak-anak, lebih nyaman menjalani hari-hari pascabencana.
Awalnya, huntara sempat mengalami kendala air bersih, meski kini sudah diperbaiki. Namun dapur dan ruang mencuci masih menjadi persoalan. Toilet yang kecil juga menyulitkan aktivitas sehari-hari.
“Kalau ada sedikit ruang dekat WC untuk masak atau mencuci tentu lebih baik. Tapi kami maklumi saja, yang penting ada tempat tinggal dulu,” ujarnya.
Harapan seperti itu menunjukkan bahwa pemulihan bencana bukan hanya soal membangun bangunan, tetapi juga memastikan penghuninya dapat hidup layak dan mandiri. Fasilitas sederhana seperti ruang memasak, tempat mencuci, dan akses air bersih bisa menjadi penopang besar bagi keluarga penyintas.
Kekuatan Seorang Ibu
Di tengah semua keterbatasan, Rauzah mengaku kekuatannya hanya satu: anak-anak. Saat berada di rumah ia kerap larut dalam kesedihan, tetapi ketika bekerja dan melihat anak-anaknya tumbuh, ia menemukan alasan untuk terus bangkit.

“Saya kuat karena anak. Kalau diingat-ingat semua yang terjadi, hancur hati saya. Tapi hidup ini seperti roda berputar. Mungkin sekarang giliran saya begini, mudah-mudahan nanti ada jalan lebih baik,” katanya.
Kisah Rauzah adalah potret ketangguhan perempuan di tengah bencana. Ia selamat dari derasnya banjir, lalu berjuang melawan gelombang baru bernama kemiskinan, kehilangan, dan tanggung jawab seorang diri. Dari huntara sederhana di Pidie Jaya, ia membuktikan bahwa harapan bisa tetap hidup, bahkan di tengah puing-puing musibah.


