Populer

Thoet Lemang dan Perempuan Abdya: Merawat Rasa, Menjaga Budaya

Aceh: Asap tipis mengepul dari deretan bambu yang bersandar di atas bara, sementara tangan-tangan perempuan tak henti bergerak memeriksa kematangan. Di bantaran Sungai Krueng Beukah, Sabtu (25/4/2026), perempuan-perempuan Aceh Barat Daya (Abdya) menjadi penjaga utama tradisi thoet lemang membakar lemang yang tak sekadar kuliner, melainkan warisan budaya yang hidup dari generasi ke generasi.

Sejak dini hari, mereka telah berkumpul di antara tenda-tenda sederhana yang didirikan tiap gampong. Di Gampong Lhung Asan dan Lhung Tarok, Kecamatan Blangpidie, suara kayu terbakar berpadu dengan percakapan hangat. Di tangan para perempuan inilah dibantu juga para laki-laki, 15 ribu batang lemang disiapkan, bukan hanya untuk memecahkan rekor, tetapi juga merawat ingatan kolektif masyarakat Abdya.

Prosesnya panjang dan penuh ketelitian. Mereka memilih bambu yang tepat, membersihkannya, lalu memasukkan beras yang telah dicuci bersama santan kental. Daun pembungkus disusun rapi di dalam bambu, memastikan aroma khas tetap terjaga. Di setiap langkah, tersimpan pengetahuan turun-temurun yang diwariskan dari ibu ke anak perempuan.

Wahyu Fitriani, pengurus PKK Gampong Barat, Kecamatan Susoh, menjadi salah satu sosok yang sejak subuh sibuk di antara barisan bambu. Baginya, membuat lemang bukan sekadar kegiatan seremonial.

“Kami sudah mulai dari beberapa hari sebelumnya, dari mencari bahan sampai menyiapkan santan. Semua terlibat, tapi perempuan biasanya yang memastikan rasanya tetap sama seperti dulu,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi masyarakat Abdya, thoet lemang memiliki makna yang lebih dalam. Tradisi ini kerap hadir dalam momen penting seperti meugang, ketika keluarga berkumpul dan berbagi hidangan. Lemang yang disajikan bersama tape atau durian menjadi simbol kebersamaan, kehangatan, dan rasa syukur yang diwariskan lintas generasi.

Di tengah semangat memecahkan rekor muri. Para perempuan tetap setia menjaga cara-cara lama. “Api harus dijaga agar tidak terlalu besar, bambu harus diputar secara berkala,” ungkapnya.

Kesabaran menjadi kunci utama. Kesalahan kecil bisa mengubah rasa, dan bagi mereka, menjaga cita rasa berarti menjaga identitas.

Perayaan hari ulang tahun ke-24 Abdya kali ini memang menorehkan capaian besar, namun lebih dari itu, ia menegaskan satu hal: di balik angka ribuan lemang, ada peran perempuan yang tak tergantikan. Mereka adalah penjaga tradisi, yang melalui asap dan bara, terus menyalakan warisan budaya agar tetap hidup di tanah Nanggroe Breuh Sigupai.

- Advertisement -

Berita Terkait