Populer

Storytelling Jadi Terapi Trauma Healing Anak Pengungsi di Aceh

Bireuen: Anak-anak pengungsi korban banjir bandang di Kabupaten Bireuen, Aceh, mendapatkan pendampingan trauma healing melalui metode storytelling dan permainan. Kegiatan ini bertujuan memulihkan kondisi psikologis mereka pascabencana.

Psikolog dari Universitas Syiah Kuala (USK), Zahrani, yang terlibat dalam pendampingan, menjelaskan kegiatan ini memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan emosi dan menjalin hubungan dengan teman sebaya.

“Setelah kegiatan, terlihat anak-anak lebih bahagia dan aktif bermain bersama,” kata Zahrani, Minggu, 20 Desember 2025.

Menurut Zahrani, fokus kegiatan adalah pengenalan dan ekspresi emosi. Timnya menggunakan alat bantu seperti kartu emoji untuk membantu anak-anak mengidentifikasi perasaan mereka.

“Saya mendampingi anak-anak dalam kegiatan yang diselenggarakan BKKBN. Kartu emoji itu memudahkan mereka mengenali apa yang dirasakan,” jelasnya.

Selain bercerita, anak-anak juga diajarkan teknik relaksasi pernapasan untuk mengatasi emosi tidak nyaman. Kemudian, afirmasi positif untuk membangun rasa aman dan keyakinan bahwa setelah kesulitan akan datang kebaikan.

Zahrani mengungkapkan, dalam sesi berkelompok besar, banyak anak mengaku merasa senang. Namun, ketika dibagi ke kelompok kecil, terutama anak usia lebih muda, mulai terungkap emosi yang lebih kompleks.

“Beberapa mengungkapkan rasa sedih karena merindukan rumah dan kebebasan bermain,” ujar Zahrani.

Aktivitas pendukung seperti mewarnai dan sesi bermain juga dilakukan untuk memfasilitasi anak-anak berbagi pengalaman. Melalui pendekatan yang beragam ini, diharapkan beban psikologis anak-anak dapat berkurang.

“Kegiatan trauma healing ini merupakan bagian dari upaya terapi pasca banjir bandang yang melanda wilayah Bireuen, untuk membantu korban khususnya anak-anak,” jelas Zahrani.
Ket: Anak-anak pengungsi terdampak banjir bandang di Aceh. Foto: Femini/Fatma

- Advertisement -

Berita Terkait