Pidie Jaya: Desa Beurawang yang sunyi pasca-banjir bandang menyisakan rupa-rupa duka. Di balik rongsokan kayu dan lapisan lumpur yang menyerupai ‘tsunami kecil’, tersimpan kisah pilu Reni, 47, tentang 36 jam perjuangannya melawan maut, genggaman erat pada tangan anak perempuannya, dan harapan kecilnya agar hutan tidak lagi ‘ditebangi’.
Reni, warga Desa Beurawang, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, masih belum bisa melupakan malam mengerikan itu. Banjir bandang yang melanda wilayahnya bukan seperti banjir tahunan yang biasa mereka hadapi.
“Ini luar biasa. Lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan banjir, tapi lumpur. Seperti tsunami kecil,” kenang Reni, suaranya bergetar saat di temui Femini.id di lokasi pengungsian di sebuah gedung di komplek kantor Bupati Pidie Jaya, Minggu, 30 November 2025.
Kronologi keselamatannya bagai sebentuk mukjizat. Semuanya berawal Jumat malam pukul 03.00 WIB. Saat lampu padam dan rumah tetangga mulai hanyut, Reni dan anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP terpaksa memanjat atap rumah mereka.
“Kami lompat ke bawah, berenang, cari pertolongan,” ujar Reni.
Pertolongan pertama mereka datang dari sebatang pohon rambutan. Dari pukul 05.30 pagi hingga pukul 11.00 siang, ibu dan anak itu bertahan di atas pohon, basah kuyup dan menggigil. Kaki Reni terluka berdarah.
“Orang-orang tidak bisa menolong, airnya terlalu kencang,” ungkapnya.
Seorang ponakan melemparkan payung untuk sedikit mengurangi kedinginan mereka. Saat harapan hampir pupus, niat untuk turun dan menyerahkan diri pada arus sempat terlintas.
“Ada perasaan, alah turun, kadang kami selamat,” ucap Reni.

Genggaman Penyelamat di Tengah Arus
Doa dan keberanian akhirnya menjawab. Dengan pertolongan keluarga yang menali dan menarik mereka, Reni dan putrinya berhasil mencapai rumah panggung yang lebih aman. Di sana, mereka bersama 20 orang lainnya, termasuk bayi-bayi, bertahan selama dua hari dua malam tanpa makanan, hanya mengandalkan makan beras mentah dan minum air hujan untuk bertahan hidup.
“Baru Jumat sore kami ditolong, ada yang kasih makanan, kasih roti,” kenangnya.
Waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB, percakapan bersama Femini.id semakin hanyut di larutnya malam posko pengungsian, Reni terus mengisahkan ceritanya berharap ada sanak suadaranya yang ada di Aceh maupun di Jakarta yang membaca berita ini nantinya, yang sudah kehilangan kabar dirinya berhari-hari.
Namun, di balik rasa syukur atas keselamatannya, ada duka yang mendalam. Saat evakuasi, ayahnya yang sakit tidak bisa jalan awalnya sempat diselamatkan oleh Tim SAR menggunakan rubber boat, di tengah jalan mengarungi derasnya banjir tiba-tiba mesin mati. Upaya evakuasi suaminya juga mengalami kendala.
“Mesin boat Tim SAR mati, Bapak jatuh dan terluka,” sambil menunjuk luka di tubuh ayahnya.
Harapan Warga Kecil di Tengah Puing
Reni Ditanya tentang kebutuhannya saat ini, Reni dengan rendah hati hanya meminta kasur dan bantal untuk ayahnya. “Tapi yang penting kami selamat. Kalau rumah, kami tidak pikir lagi, yang penting nyawa kami selamat,” katanya.
Namun, dari balik kesederhanaannya, Reni menyampaikan pesan yang tegas kepada pemerintah. Ia menduga banjir bandang ini berkaitan dengan kerusakan hutan di wilayahnya.
“Kepada pemerintah, tolonglah perhatikan kami yang warga kecil. Tolong jangan terbang-terbangin lagi hutan. Kami yang orang kecil susah. Ini kan gara-gara hutan kan kayu kebanyakan dipotong. Kami yang rakyat kecil yang kena. Itu saja harapannya, kalau bisa jangan banjir lagi setiap tahun. Tolong dirapikan Pidie Jaya ini. Perhatikan rakyat kecil,” ungkap Reni penuh harap.
Momen paling menyedihkan bagi Reni adalah detik-detik ia harus melompat dari atap rumah, tak tahu apakah ia dan anaknya akan selamat.
“Waktu aku loncat, aku bilang sama anak aku, ‘Dek, adek jangan turun dulu ya. Siapa tahu mama duluan yang meninggal’,” ujarnya, menahan isak.
“Enggak, enggak,” jawab anaknya.
“Kalau mama duluan yang meninggal adek jangan loncat,” kata Reni pada anaknya saat itu.
Ia berfikir tidak ada harapan lagi untuknya hidup saat melihat air yang sangat tinggi dan deras.
“Lemas, nggak ada harapan lagi rumah kami yang sudah tertimbun lumpur seatap. Waktu duduk sendiri, bayang-bayang kejadian itu selalu ada,” tutup Reni.
Air mata yang tak lagi bisa dibendung mengalir ketika ia membayangkan kembali kejadian itu. menggambarkan luka batin yang mungkin lebih dalam dari luka di kakinya, dan akan lebih lama pulih daripada rumahnya yang rusak 95 persen.
Bagi Reni, harta bisa dicari lagi, tetapi malam di atas pohon rambutan dan genggaman tangan anaknya di tengah arus yang menggila, adalah pelajaran tentang betapa berharganya nyawa dan betapa rentannya kehidupan warga kecil di hadapan amuk alam.


