Populer

Di Tengah Reruntuhan “Pemulia Jamee” Para Pengungsi Aceh Tak Pudar

Pidie Jaya: Di balik lukisan duka yang tersisa setelah banjir bandang menerjang Pidie Jaya, Aceh, cahaya lain justru bersinar dari hati para penyintasnya. Di tengah keterbatasan dan kepedihan kehilangan harta benda, sebuah nilai luhur yang mengakar kuat tetap mereka pegang erat “Pemulia Jamee Adat Geutanyoe” atau (memuliakan tamu sebagai jati diri orang Aceh).

Nilai itu bukan sekadar pepatah, tetapi nyata terpancar dalam aksi. Tim Femini.id yang mendatangi sejumlah lokasi pengungsian di Pidie Jaya disambut dengan kehangatan yang tak terduga. Rata-rata pengungsi, meski hidup serba kekurangan di tenda-tenda darurat, justru lebih dahulu menawarkan jamuan sederhana kepada para pendatang yang mereka anggap sebagai tamu.


Ket: Penyintas banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Foto: Femini/Fatma

Sosok Reni, 47 tahun, adalah bukti nyata. Di dalam kondisinya yang baru saja kehilangan (meninggal dunia) sosok bapaknya yang ia rawat dua pekan di pengungsian di sebuah gedung kawasan kantor Bupati Pidie Jaya yang dijadikan tempat mengungsi, perempuan ini menyambut tim dengan salam dan pelukan hangat.

Tanpa ragu, ia membongkar kardus berisi bantuan logistik, mengeluarkan air kemasan dan sebungkus roti yang masih tersegel, lalu menghidangkannya. “Silakan minum, makan,” ujarnya dengan senyuman, seolah lupa bahwa dirinya sedang dalam kondisi berduka dan serba kekurangan.

Cerita serupa hadir dari Mariani, 53 tahun, di Desa Beurawang, Kecamatan Meureudu. Duduk termenung di depan rumahnya yang nyaris hancur tertimbun lumpur setinggi pintu, ia tampak masih terpukul. Namun, saat ada tim yang menghampiri dan duduk bersamanya, naluri sebagai tuan rumah langsung bangkit.

Ia mempersilakan duduk, lalu memetik buah rambutan dari pohon yang selamat di halaman rumahnya. Ia pun bergegas mencari air kemasan untuk menjamu tamunya. “Dimakan apa yang ada, kami enggak punya apa-apa cuma ini buah rambutan, silahkan,” ujar Mariani.

Kejutan paling mengharukan datang dari seorang remaja berusia 14 tahun, Asyraf. Di tengah puing rumahnya yang jebol dan dipenuhi kayu gelondongan, ia justru bangkit dari duduknya di atas lumpur yang mengering. Asyraf menuju satu-satunya pohon kelapa yang masih tegak, memetik buahnya, dan menyajikan air kelapa segar kepada tim. “Ini dari pohon kami yang masih sisa, air kelapanya segar kak,” katanya polos.

Adegan-adegan penuh keprihatinan sekaligus ketulusan ini bukanlah insiden tunggal. Sikap para penyintas ini mengisyaratkan sebuah ketangguhan budaya yang lebih dalam dari sekadar bertahan hidup. Di saat harta benda mereka hilang, nilai-nilai kemanusiaan, penghormatan, dan kemurahan hati justru menjadi harta yang mereka pertahankan dengan bangga, bahkan kepada orang yang belum mereka kenal.

Banjir bandang boleh saja menyisakan lumpur dan kehancuran di Pidie Jaya. Namun, ia gagal mengikis akar budaya “Pemulia Jamee” yang telah mengental dalam darah daging masyarakat Aceh.

Di tengah bencana, justru dari tangan-tangan yang kehilangan, ketulusan dan martabat sebagai tuan rumah yang baik itu dipersembahkan, mengajarkan bahwa kemanusiaan dan adat yang mulia adalah benteng terakhir yang tak mudah runtuh.

- Advertisement -

Berita Terkait