Femini.id – Mereka berpikir mengutarakan perasaan bisa memicu konflik
Mungkin saja mereka pernah mengalami suatu konflik yang membuat mereka sampai saat ini menghindari emosi marah dan konflik dengan orang lain.
Mereka mempercayai jika membuka pikiran dan perasaan mereka pada orang lain, mereka justru akan dijauhi alih-alih mendapatkan dukungan atau ketenangan. Ketakutan inilah yang lantas membuat mereka lebih memilih untuk menyimpan semua perasaan mereka sendiri.
Mereka emosional perfeksionis, anti terlihat lemah atau rapuh
Biasanya pandangan mereka terlalu perfeksionis bahwa seseorang tidak seharusnya mempunyai emosi marah, cemburu, depresi, atau cemas, sebab hal itu adalah emosi negatif. Mereka percaya bahwa seseorang seharusnya bisa bersikap rasional dan mengontrol emosinya dengan baik.
Emosi yang tidak terekspresikan bisa jadi hasil dari luka masa lalu
Mungkin seseorang yang dekat dengan mereka meninggal, atau mungkin mereka mengalami perpisahan yang berat yang membuat mereka tidak bisa mengungkapkan betapa sakitnya mereka.
Mereka menganggap orang lain bisa membaca pikiran dan memahami perasaan mereka dengan sendirinya
Mereka berpikir orang lain sudah bisa mengetahui perasaan mereka dan apa yang mereka butuhkan tanpa diberitahu sama sekali. Padahal orang lain mungkin saja tidak mengerti maksud mereka sebelum mereka membukan diri dan memberitahunya secara langsung maksud sebenarnya.
Menyembunyikan apa yang kamu rasakan dari orang lain tidak selamanya bijak untuk dilakukan. Tidak jarang menahan emosi tanpa mengimbanginya dengan kemampuan mengelola emosi tersebut justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental diri sendiri.